Selasa, 23 September 2014

apakah yang abadi hanya edlewis?



Edelweis (kadang ditulis eidelweis) atau Edelweis Jawa (Javanese edelweiss) juga dikenal sebagai Bunga Abadi yang mempunyai nama latin Anaphalis javanica, adalah tumbuhan endemik zona alpina/montana di berbagai pegunungan tinggi Indonesia. Tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian maksimal 8 m dengan batang mencapai sebesar kaki manusia walaupun umumnya tidak melebihi 1 m.

Di balik keindahan dari bunga edelweis ternyata tersimpan sebuah mitos, dimana bagi yang memberikan bunga ini kepada pasangannya, maka cintanya akan abadi. Tidak sedikit para pencinta yang menjadikan bunga abadi ini menjadi salah satu hadiah spesial bagi pasangannya. Konon, hal itu dimaksudkan agar cintanya abadi, dan beruntungnya sepulang dari dataran tinggi dieng kemarin partner saya memberikan bunga ini sebagai buah tangan :D Siapa yang nggak tahu bunga edelweis, atau banyak orang yang memberikan istilah dengan bunga abadi. Kalau dilihat dari bentuknya bunga ini sangat cantik, dan di balik kecantikannya itu tersimpan makna ataupun mitos yang cukup banyak mempercayainya. 

Tapi.., fenomena yang ada sekarang ini justru mengharuskan kita agar dapat bijaksana dan membuat benang merah agar bunga edelweis tetap ada sebagai pelepas dahaga jika seandainya suatu saat kita berdiri di sebuah puncak yang tinggi, dimana sekeliling kita adalah hamparan bunga abadi ini. Save Edelweis!

Bunga Edelweiss ( Anaphalis javanica ) sangat popular dikalangan wisatawan. Bunga ini dikeringkan dan dijual sebagai souvenir. Kondisi ini menyebabkan spesies tanaman ini mengalami kelangkaan . Di wilayah gunung Bromo – Tengger Jawa Timur, tanaman ini dianggap punah. Jumlahnya yang terus menurun membuat tanaman ini termasuk yang dilindungi di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango , Jawa Barat. Larangan untuk memetik bunga ini terpampang jelas, namun kerap kali pemetikan bunga Edelweiss sulit dihindarkan dari tangan - tangan jahil yang mencoba menyelundupkan bunga tersebut.
Kabar gembiranya, bunga Edelweis Jawa ( Anaphalis Javanica ) ini sudah banyak dibudidayakan oleh para petani di daerah Dataran Tinggi Dieng di Jawa Tengah. Para petani ini membudidayakannya dengan cara menanam anakan yang tumbuh dari biji dan tersebar di sekitar pohon induknya serta ditanam di daerah dataran tinggi lebih dari 1000 mdpl, pada tanah liat berkapur atau berpasir dengan pH ( keasaman tanah ) antara 4 - 7.

Kemauan dan kesadaran yang gigih dari kita untuk membuat Edelweis tetap menjadi bunga abadi dan tumbuh di alamnya. Biarkan dia disana untuk menyambut para pendaki dengan indahnya. Jaga Edelweis dari hati. 

"karena Kamu tidak akan pernah mendapatkan cinta abadi (dari sekuntum bunga abadi), tapi adalah cinta sejati (juga bukan dari sekuntum bunga Edelweis). Dan kamu justru tidak akan mendapatkan keduanya jika kamu tidak meyakini bahwa yang sedang kamu rasakan"
Anyway, terimakasih banyak partner untuk edlewisnya, bunganya akan tetap saya simpan karena memetik edlewis saat ini dikenakan sanksi karana tanaman ini dilndungi. juga saya harap saya hanya punya 1 bunga edlewis di dalam rumah dan seumur hidup saya :p

Senin, 28 Juli 2014

sesederhana kamu

Saya tidak terlalu ambisius. Saya menyenangi sesuatu yang natural dan sederhana saja. Kesenangan saya itu bisa berbentuk punggung, lengan, senyuman, binar mata, warna kulit, apapun yang memberikan keindahan di dalam diam.
Kamu bagi sebagian orang adalah sebuah kesalahan. Tetapi bagi saya, kamu adalah sebuah keindahan. Keindahan yang menimbulkan sebuah kata, rindu. Saya tidak hanya rindu untuk menikmati kamu, hanya sedikit—seperti hanya kamu dalam bentuk punggung. Tetapi juga kamu yang versi lengkap. Dengan segala kekurangan dan kesalahan kamu.
Saya tahu bahwa ini tidak mudah. Tidak mudah untukmu. Tidak mudah juga untuk saya. Untuk belajar menerima. Saya menerima kamu dengan seluruh kekurangan serta kelebihan yang kamu punya di dalam sebuah kesederhanaan 
Saya mendoakan semua kualitas terbaik dari pencipta dikeluarkanNya kepadamu. Tetapi kenyataannya, saya mendapati kamu sedang dalam sebuah kebingungan entah apa, sedikit sulit untuk menjelaskannya. Kebingungan itu seperti ada di dalam kamu,
Semoga kita bertemu di sebuah waktu dimana semua lebih natural dan sederhana. Sesungguhnya Tuhan itu pecinta. Ia lebih paham. 

Jumat, 06 Juni 2014

Selalu rindu menulis. Tapi seperti rindu, kadang sulit diungkap

aku bahagia

Belakangan, rasa perempuan ini selalu datang dengan berlebihan. Sedikit saja tersentuh rasa tak enak, inginnya menghamburkan lagi keluarkan kata. Namun selalu belajar menahan, walaupun gagal untuk menahan lemahnya mata yang tak bisa mengepal titik titik kaca berlinangan.
Saat seperti itu, tak perlu lagi bertanya harus kemana meredakan gumpalan keras di dada. Hanya butuh kamu memelukku lalu selesai. Iya sesederhanan itu.
Tak pernah ada pilihan apapun untuk merasakan tenang, bersujud dan bertemu kamu. 
Kamu selalu nyata. Kamu yang menyebalkan, ketika aku sedang kesal kamu hanya sesekali meliriku dan kembali asik dengan lagu lagumu. Kamu yang menyebalkan, ketika aku sedang kesal kamu hanya merangkulku dan terus menggodaiku. Kamu yang menyebalkan, ketika aku sedang sangat kesal kamu hanya memelukku, mengerahkan seluruh jarimu untuk mengelusku dan mengecupiku.
Tak pernah ada pilihan apapun untuk merasakan tenang, aku pasti menujumu.
Kamu yang selalu berusaha keras mengerti aku. Kamu yang bersusah payah mengurai sabar hadapi aku. Kamu yang selalu siapkan senyum untuk banyak kekesalanku. 
Semoga ini tidak berlebihan, aku bahagia ada kamu
Tidak akan sulit mendapat bahagia jika bersamanya

Hanya Karena Waktu Mereka Denganmu Sudah Selesai

Baru dengar cerita sedih pagi ini, Ya, cerita yang paling menyebalkan untuk di dengar atau dibagikan.
Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa ketika ada orang yang “pergi” dari kehidupan kita, baik itu sengaja maupun tidak sengaja, itu karena satu alasan: waktu mereka bersama kita telah selesai.
Saya pernah membaca ungkapan ini. Waktu itu saya sedang patah hati. Berat. Ketika mengalaminya, ada sedikit rasa untuk menyalahkan diri. Seakan orang yang “pergi” dari kehidupan saya adalah karena kesalahan saya.
Tetapi sepenuhnya bukan. Saya termasuk orang yang percaya bahwa hidup adalah proses melakukan kesalahan dan belajar. Semoga kamu juga percaya itu.
Lalu ada waktu-waktu yang bawa saya untuk berpikir sejenak tentang lalu lalang kehidupan orang lain di dalam kehidupan saya sendiri. Konon ketika percaya bahwa, setiap orang bisa mengirimkan pesan kepada orang lain, kamu tidak akan bisa menolak untuk adanya “kehidupan” yang lain tadi.
Prosesnya kurang lebih seperti ini: bertemu, menjadi sahabat, (jika beruntung) jatuh cinta, (jika beruntung lagi) menjadi kekasih, dan (jika beruntung lagi) menjadi orang asing kembali.
Orang-orang itu datang. Kemudian “pergi.” Pada satu titik karena kamu manusia, kamu akan merasa kehilangan yang sangat dalam. Pergi tidurlah. Tidak perlu menangis. Percayalah ketik bangun pagi nanti, kamu akan menyadari satu hal: bahwa mereka “pergi” hanya karena waktu mereka denganmu sudah selesai.

Senin, 28 April 2014

Jangan cintai aku apa adanya - Tulus

since I lost my bb jadi sering ngeradio lagi, moreover, it’s such a pleasure daripada denger lagu di playlist hp yg (kadang) (dan seringnya) itu lagi itu lagi..
Alasan pribadi, sih, karena kalo di radio lagunya surprise, either kamu suka atau nggak, mau gak mau kita jadi ngedengerin.
So, back to the story, sambil nunggu jam kantor beres, tetiba lagu ini muter di radio: 
“Jangan cintai aku apa adanya..jangan..
Tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan”
-      - Jangan Cintai Aku Apa Adanya by Tulus
Aaaaaakkkk!!! *langsung histeris gitu gue* *tapi dalam hati aja* :]
Suka banget liriknya, dan maknanya dalem (tsssaaahhh!!) lagu ini pernah banget dikirimin di whatsapp sama partner belum lama ini.
Jadi gini, di saat di mana – mana pada nuntut “cinta apa adanya”, “nyari yg nggak neko-neko”, “unconditianal love; cinta tak bersyarat”. Deseu malah ngelawan arus, minta jangan dicintai apa adanya, minta dituntut sesuatu. Though, emang sih, ternyata ada maksudnya dia minta dituntut “biar kita jalan ke depan” gitu katanya.
..... “Cintai aku apa adanya” .....
Emang manis tuh kata-kata, means a lot, which is kayaknya enak aja gitu kan dicintai tanpa dituntut; dikasih syarat macem-macem. But, pernah nggak sih kita mikir kalo “cintai aku apa adanya” ituh bikin stuck, jalan di tempat. Kan gak boleh nuntut, terima apa adanya, whatever the terms and conditions are.
Mengutip dari my fave blog-writer, Fa:
“buat saya orang yg bilang ‘cintai aku apa adanya’ itu orang paling egois sedunia. Jadi kalo kamu tukang selingkuh, terus kamu punya pacar, pacar kamu gak boleh protes dong kalo kamu selingkuh! Kan ‘cintai aku apa adanya’.”
That’s the point, jadi manusia itu berkembang, kan? Relationship pun gitu, moving forward, kalo nggak, ya stuck. Means, kamu dicintai apa adanya tanpa dituntut, ya stuck. Gitu – gitu aja. Datar. Flat! Hey! Life is never flat, Sist..
Beda kalo kamu dituntut sesuatu, pasti berusaha buat dapetin, apalagi buat orang yg disayang. Priceless..
Ada mimpi, ada yg dikejar, ada tujuannya, jelas!
Relationship itu maju, bukannya mundur. Begitu bukan?
Nah, terus gimana kalo punya pacar tukang nuntut? (padahal bukan jaksa)
Kalo matre itu tukan nuntut juga? Kalo possessive & insecure termasuk tuntutan bukan?
Again, sesuatu yg berlebihan nggak pernah dengan berakhir baik. Dan jelas kalo matre itu nuntut berlebihan. Possessive and insecure juga masuk tuntutan yg berlebihan (eh, iya, nggak, sih).
Kayak kita makan sesuatu kebanyakan, even kita suka sama makanan tersebut, pasti ntar jadi eneg, begah kekenyangan, lama – lama muntah. *muntah paku*
Terus, tuntutan yg kayak gimana dong yg nggak berlebihan dan buat moving forward?
Ya, macem – macem sih, yg motivasional lah pokoknya. Kritik aja ada yg membangun, masa tuntutan nggak.
Nuntut supaya bangun pagi misalnya, biar nggak telat masuk kelas atau masuk kantor. Nuntut supaya kurusin dikit, biar enak diliatnya haha
Pokoknya selama tuntutan itu demi kebaikan bersama dalam sebuah hubungan dan menguntungkan kedua belah pihak, berarti baik adanya. Kalo nuntutnya cuma buat kebaikan dan keuntungan sepihak, itu mah mau menang sendiri. There’s no “I” and “U” in “we”.
... but there’s “U” in “us”
Tetep ye situ maunya yg dominan, banyak maunya. Hehehe..

Tak sulit mendapatkan mu
Karena sejak lama kau pun mengincarku

Tak perlu lama-lama
Tak perlu banyak tenaga
Ini terasa mudah

Kau terima semua kurangku
Kau tak pernah marah bila ku salah
Kau selalu memuji apapun hasil tanganku
Yang tidak jarang payah


Jangan cintai aku
Apa adanya
Jangan

Tuntutlah sesuatu
Biar kita jalan ke depan


Ya, seringkali terjadi memang, mencintai (terlalu) apa adanya sehingga tak ada resolusi menuju sesuatu yang lebih baik. Padahal, dengan cinta kekuatan satu ditambah satu tak hanya menjadi dua melainkan bisa menjadi delapan atau tigabelas. Padahal, dengan cinta letih berjuang bisa cepat tergantikan dengan semangat baru. Padahal, dengan cinta resolusi dan mimpi-mimpi tak hanya diperjuangkan seorang diri.

Jangan mau menjadi biasa saja, kalau memang cinta. Katanya cinta, tapi mau ketemu aja nanti-nanti mulu (nah nunduk deh inget shalatnya suka nanti-nanti). Katanya cinta, tapi disuruh ngerjain sesuatu aja alesan mulu. Katanya cinta, tapi dites cintanya dengan ujian udah ngeluh dimana-mana. Katanya cinta, tapi nyebut namaNya aja kalo pas inget aja. Katanya cinta, tapi rela mencintai dengan sangat apa adanya, ngga mau berlomba-lomba dalam mencapatkan cintaNya juga. Fastabiqul khairat! Yuk ah berlomba dalam kebaikan.

Ah iya, jangan cintai aku apa adanya. Mari berupaya bersama untuk masa depan yang lebih baik :)


Rabu, 23 April 2014

Memperkenalkan kamu kepada Maret

Hallo Maret, rasanya singkat sekali waktu untuk kembali bertemu denganmu. Ingatan saya masih lekat ketika bertemu Maret setahun lalu. Tahun lalu, Maret memberi senyuman utuh dan pemandangan nyata di depan mata, atas banyak hari yang sudah saya dan orang orang terdekat lewati. Membuat sebuah pertemuan sekaligus perpisahan. Memberi banyak andai sekaligus membuang berbagai harapan. Mengamati banyak air muka, mengelus kantung mata, mengusap merah marahnya pipi, menekuk senyum, dan mencoba menunduk, lalu kembali singgungkan senyum. Begitu mudah, karena begitu tulus melepas Maret.

Satu tahun sudah Maret di dalam kotak. Kini di yakini Maret milik kita. karena Kamu meminta saya memelukmu, menyembunyikan tangan tangan dingin ini di balik flannelmu. Iya, ketika itu juga saya mulai berkenalan dengan rindu aromamu. kamu perkenalkan saya aliran hangat yang ada di ruas jari-jari tanganmu. Saya mulai mencari jika beberapa saat tak ada hangatnya. Kamu juga membuatkan saya kebiasaan kebiasaan yang harus saya cari jika Kamu tak sempat temui saya.

Kamu yang memperkenalkan saya, perbincangan tentang teman hidup. Bukan tentang cinta, tapi teman, seseorang yang menemani hingga di alam berikutnya. Akan ada seseorang yang membimbing saya dalam doa, berdampingan menuntun banyak perjalanan hingga saatnya nanti tak bisa lagi berjalan, ada banyak kesakitan yang pasti bisa tersembuhkan, ada arah yang salah namun akan saling membenarkan, saling mengobati ketika sering terjatuh, ada banyak kata penenang untuk setiap detik yang disediakan Tuhan. Ada bahu yang siap menopang beratnya kepala, Ada Kamu dimanapun saya menghelakan nafas.

Perkenalkan, Kamu andsyq

sebuah perenungan hari ini

Bukan berarti nggak boleh kritis sama hidup. Tapi manusia terlalu kerdil untuk rencana rencana besar terhadapnya. Semua telah diatur.

Bunyi tweet saya. Bukan hanya sebuah tweet, tetapi itu juga dalah sebuah perenungan panjang, ketika akhir-akhir ini saya sering berpikir. Mendadak perenungan itu kok sepertinya menyiratkan bahwa kita “menyerah” terhadap hidup. Seakan-akan terlalu nrimo dan ujung ujungnya tidak mau berbuat apa-apa lagi.

Tetapi akhir-akhir ini saya sedang berpikir tentang sebuah penyerahan hidup yang paling dalam. Bahwa penyerahan hidup ini hanya semata-mata karena saya hanya terlalu kerdil untuk sebuah rencana rencana besar yang akan terjadi di dalam kehidupan saya. Sungguh saya tidak akan pernah mengerti jalan-jalannya. Sungguh saya tidak pernah mengerti karena konon otak saya hanya sebesar bakpau.

Pernahkah kamu bangun di pagi hari dan kamu mendapati dirimu masih diberikan kesempatan nafas hidup, lalu kemudian kamu turun dari tempat tidur, agak sedikit melakukan perenggangan sejenak, minum air putih yang banyak, membuka gorden jendela kamarmu lebar-lebar, melihat pucuk daun hijau di luar jendela kamarmu dan berpikir kenapa kamu masih hidup? ataukah kok bisa ya saya masih dikasih kesempatan untuk hidup? ini mungkin akan menjadi pertanyaan yang paling aneh yang kamu lakukan. Tapi begitulah, hidup tidak datang dengan sendirinya, begitupun mati, semuanya ada yang mengatur.

Sebagai manusia yang terlalu kerdil, ada kemungkinan saya tidak punya hak apa-apa untuk menggugat segala sesuatu yang terjadi. Satu hal yang saya pelajari dan coba renungi selama hari-hari ini adalah: bagaimana saya tetap mensyukuri hidup yang menghampiri saya, dan menyerahkan hidup saya ke tangan sang kuasa dalam-dalam. Ini bukan klise. Ini hanya sebuah keyakinan bahwa, apapun yang terjadi di dalam kehidupan saya tidak lepas dari  kendali dan pemeliharaan yang kuasa.
© ranyndwisubakti 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis